Resensi Novel : Ranah 3 Warna

  • 0

Mata yang “belo” ini bisa beristirahat sejenak setelah 3 hari begadang untuk menyelesaikan membaca novel ke-2 dari trilogi Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna. Sengaja saya kebut membacanya karena sudah tidak sabar ingin membuka halaman demi halaman yang membuat saya penasaran lagi dan lagi.

Sebelumnya saya ucapkan Terimakasih kepada sahabat baik saya, Tisa Susanti, yang telah memberikan pinjaman novel ini. Tanpa pinjamannya, mungkin saya harus merogoh uang lebih banyak untuk membeli sebuah buku luar biasa ini ke Tasikmalaya. Walaupun suatu saat nanti saya ingin menambah koleksi novel saya dan membelinya ketika rezekinya sudah tiba.

Masih bercerita tentang seorang santri bernama Alif Fikri, lulusan Pondok Madani yang memiliki banyak mimpi untuk menaklukan dunia. Berbeda dengan novel sebelumnya Negeri 5 Menara yang banyak bercerita tentang kehidupan pesantren bersama sahabatnya Sahibul Menara mengenai bagaimana mimpi itu ditancapkan, di Ranah 3 Warna ini cerita lebih ke bagaimana mimpi itu tetap harus di perjuangkan dalam situasi apapun. 

Dengan berbagai perjuangan yang dilakukan Alif, “benih-benih” mimpi itu mulai menjadi kenyataan. Mulai dari  mimpinya untuk mengunjungi Benua Amerika, yang terwujud berkat kesempatannya untuk mempelajari Kebudayaan Masyarakat di Kanada. Ambisinya untuk berkuliah di ‘Kota Kembang’, walaupun tidak di ITB tetapi ia berhasil masuk Fakultas Hubungan Internasional di Unpad. Mengunjungi Yordania di Timur Tengah, tapaktilas mengenai sejarah Ilsam. Menjadi seorang Jurnalis terkenal, dan pengalaman seru Alif lainnya yang membuat pembaca merasakan terbawa melayang-layang ke beberapa benua.

Alur ceritanya yang menarik, membuat saya merasakan suasana yang sama seperti Alif rasakan. Ketika sang ayah meninggal, saya tak kuasa meneteskan air mata. Begitu juga ketika Alif terpilih menjadi Duta dari Indonesia untuk pergi ke Kanada, saya ikut gembira, bahkan tanpa sadar saya lompat-lompat sendiri di malam yang sepi itu. Apalagi ketika perpisahan antara orangtua angkatnya di Kanada, mata saya berkaca-kaca sedih. Pengalaman unik dan mengasyikan.

Novel ini mengajarkan kepada kita untuk tidak meremehkan mimpi. Sekali mimpi itu di buat, jangan pernah menyerah untuk meraihnya. Terus tancapkan gaspol dan selalu sabar, Man jada Wajadda, Barang Siapa Yang Bersungguh-Sungguh Akan Berhasil.  Dan satu lagi ‘mantra’ yang cukup sakti untuk menemani perjalanan dalam meraih mimpi, Man Shabara Zhafira, Siapa Yang Bersabar Akan Beruntung. 

Sekedar tambahan, agar ceritanya dapat dimengerti dengan baik, pembaca saya rekomendasikan untuk membaca Novel sebelumnya, yaitu Negeri 5 Menara. Untuk Resensinya ada disini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...